Menteri BUMN Erick Thohir (foto: liputan6.com/Johan Tallo)

BusinessNews Indonesia – Hingga 2019 Risk Base Capital  RBC) PT Asabri (Persero) masih minus 517%, sementara regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan menetapkan 120% sehingga dibutuhkan dana Rp7,26 untuk mengembalikan ke posisi ideal.

Menanggapi ini Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir hanya mengatakan sepatah kata. “Eaaa, ya ya ya ya,” ujar Erick di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (29/1/2020), seperti dikutip sindonews.com.
Sebelumnya Direktur Keuangan dan Investasi Rony Hanityo menerangkan, RBC negatif karena liabilitas lebih besar dari aset. Hal itu lantaran akumulasi cadangan Liabilitas Manfaat Polis Masa Depan (LMPMD) tiap tahun, sementara nilai aset turun karena nilai investasi saham.

Rony menjelaskan, investasi Asabri pada kuartal VI 2019 turun drastis. Ia mencontohkan, ada saham yang turun dari harga sahamnya Rp500/unit bisa jadi Rp 50/saham. “RBC memang 2019 negatif tapi karena asuransi sosial captive market, dan nggak jualan, kalau jualan kan harus memenuhi RBC 120%, kalau di sini nggak ada isu,” ucapnya.

Sementara Direktur Utama PT Asabri (Persero) Sonny Widjaja mengatakan, penurunan aset selama ini karena kesalahan penempatan investasi saham dan reksa dana di Hanson Internasional Group, yang dijalankan Benny Tjokro dan Heru Hidayat. “Ini yang kami sedang lakukan langkah agar dana kecukupan modal bisa terlaksana,” jelasnya

Sebagai informasi, total aset PT Asabri (Persero) pada 2019 mengalami penurunan menjadi Rp10,6 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp19,4 triliun. Sedangkan, total aset dari pengelolaan iuran pensiun atau Akumulasi Iuran Pensiun (AIP) juga mengalami penurunan dari Rp26,9 triliun pada 2018, menjadi Rp 18,9 triliun di akhir tahun 2019. (spm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here