Direktur Utama PT Krakatau Steel Silmy Karim (foto/id.wikepedia.org)

BusinessNews Indonesia – Krakatau Steel akhirnya melakukan restrukturisasi utangnya senilai US$ 2 miliar atau setara dengan Rp 27,22 triliun. Ini adalah restrukturisasi utang terbesar dalam sejarah Indonesia. Restrukturisasi ini disokong oleh 10 perbankan dan ditargetkan akan berlangsung hingga 2027. Melalui restrukturisasi ini Direktur Utama KRAS, Silmy Karim menyatakan, total beban bunga KRAS turun signifikan dari US$ 847 juta menjadi US$ 466 juta, seperti ditulis cnbcindonesia.com.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, sebut tirto.id, mengatakan restrukturisasi utang BUMN tersebut salah satu yang terbesar dalam sejarah Indonesia. Menurut Erick, restrukturisasi BUMN industri baja tersebut harus dijalankan dengan niat yang benar, tidak memikirkan hal-hal lain seperti komisi atau apapun.

Silmy Karim menambahkan, kesepakatan restrukturisasi telah ditandatangani oleh ke-10 bank secara bertahap pada periode 30 September 2019 sampai 12 Januari 2020.

“Oleh sebab itu, sepanjang tahun 2019, banyak hal yang sudah kami lakukan dalam rangka melakukan transformasi perusahaan. Selain restrukturisasi hutang, kami juga telah melakukan optimalisasi tenaga kerja dan menerapkan operation excellence sehingga Krakatau Steel lebih efisien dan kompetitif,” ungkapnya, sebagaimana dikutip indopolitika.com.

“Kemudian di September dan November 2019 secara berturut-turut kami berhasil melampaui rekor produksi HRC dan CRC. Dengan segala capaian ini kami optimistis di tahun 2020, Krakatau Steel akan mempunyai catatan yang lebih gemilang,” sambungnya.

Sebelumnya, pada 30 September 2019 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank ICBC Indonesia, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank), PT Bank Central Asia Tbk. telah sepakat untuk melakukan relaksasi pembayaran hutang dalam perjanjian induk rekstrukturisasi (MRA).

Pada 29 Desember 2019 PT Bank DBS Indonesia dan PT Bank OCBC NISP Tbk mengawali perjanjian aksesi atau penundukannya terhadap perjanjian induk restrukturisasi. Kemudian, pada 12 Januari 2020 dua bank swasta lainnya yakni Standard Chatered Bank Indonesia dan PT CIMB Niaga Tbk turut tunduk dalam perjanjian induk yang sama.[spm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here