Jakarta, Businessnews.id- Ancaman kejahatan siber diprediksi akan  semakin mengalami peningkatan  yang cukup signifikan di tengah wabah covid-19, bahkan hal itu pun akan terjadi pasca  pandemi virus corona yang menyerang hampir seluruh wilayah di dunia termasuk Indonesia berakhir.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian dalam acara Webinar Covid-19 ” The New Norm In Cyber Security Data Science & AI”,  yang digelar  Asosiasi Big Data dan AI (ABDI), Selasa (19/05).

Menurut Hinsa Siburian, pasca pandemi Covid-19, ancaman siber berupa serangan terhadap infrastruktur seperti data, proses transmisi data, serta proses penyimpanan data akan semakin masif seiring dengan terbentuknya budaya baru yang akan menjadi norma dalam kehidupan masyarakat terkait penggunaan internet.

“Pasca pandemi ketergantungan akan pola komunikasi yang memanfaatkan internet yang memanfaatkan volume intensitas dan transfer data dalam jumlah yang lebih besar tidak akan dapat terhindarkan,” kata Hinsa.

Untuk itu, lanjut Hinsa, strategi keamanan siber di Indonesia perlu ditingkatkan untuk dapat menghadap ancaman-ancaman tersebut, sehingga keamanan siber Indonesia terbebas dari serangan tersebut.

“Strategi keamanan siber perlu ditingkatkan antara lain, keamanan dan kepercayaan dalam bertransaksi di ruang siber, termasuk regulasi etika dan kesadaran keamanan para pemangku kepentingan, sehingga ruang siber aman dari potensi kejahatan Siber yang kita hadapi seperti sekarang ini,” lanjutnya.

Dalam kesempatan itu juga, Hinsa mengajak seluruh asosiasi dan pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dalam meningkatkan keamanan siber di Indonesia.“Kami juga membutuhkan partisipasi asosiasi seperti ABDI untuk mendorong pengembangan keamanan informasi dan komunikasi eccomerce tanah air,” ujarnya.

“Kami berharap seminar ini dapat merumuskan norma baru dalam etika berkomunikasi untuk melindungi keamanan siber,” tambahnya.

Senada dengan BSSN.. Ketua Asosiasi Big Data dan AI (ABDI), Rudi Rusdiah mengatakan bahwa adanya pandemi covid-19 telah merubah pola hidup dan pola kerja masyarakat khususnya di Indonesia.

“Covid-19 mempengaruhi hampir di segala sektor seperti perkantoran, sekolah bahkan perbankan, dimana kemudian bisa mengubah pola masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, dengan adanya pandemi ini tentu akan dijadikan kesempatan bagi cybercrime untuk meningkatkan kemampuan para hackers dan crackers untuk melakukan penetrasi, fraud dan lainnya, sehingga menjadi ancaman bagi masyarakat bahkan pelaku industri.“Sehingga regulator juga harus meningkatkan kemampuan di teknologi regulasi dan data governance, meliputi KYC, AML, perlindungan data,” tambahnya.

Selain itu, lanjut Rudi, adanya pandemi juga berpengaruh pada sektor perbankan, dimana banyak industri-industri perbankan yang kemudian memutar otak untuk menemukan suatu inovasi dimana segala transaksi yang dilakukan secara digital tetap aman.

“Industri perbankan sangat rentan mendapat serangan siber mengingat industri ini menjadi tempat uang “berkumpul”. Para penjahat siber pun terus mencari celah keamanan untuk mengeksploitasi kelemahan sistem keamanan perbankan,” tandasnya.

Ia pun berharap dengan adanya Webinar tersebut, dapat ditemukan resolusi-resolusi untuk menghadapi new norm dimana segala hal berbasis teknologi semakin berkembang. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here